HEMATOLOGI (II)
A. FIBRINOLISIS
Fibrinolisis merupakan mekanisme pecahnya benang fibrin (salah satu agen pembeku darah yang diproduksi dalam darah sebagai produk akhir koagulasi). Obat yang dapat mengaktifkan kerja fibrinolisis dapat menyembuhan penyakit seperti embolisme paru-paru dan infark miokard yang disebabkan adanya gumpalan darah yang menghambat aliran darah di daerah tersebut (Durachim dan Astuti, 2018).Fibrinolisis menurut Frances dan Dunning ( 2009 ) merupakan suatu proses penghancuran deposit fibrin oleh system fibronolotik sehingga aliran darah akan terbuka kembali. Sistem fibronolitik merupaka suatu system enzim multikomponen yang menghasilakn pembentukan enzim aktif plasmin, dimana plasmin ini akan menyebabkan degradasi fibrin, meningkatkan jumlah produk degradasi fibrin yang terlarut. Sistem fibronolitik ini terdiri dari 3 komponene utama, yaitu :
a. Plasminogen
b. Aktivator plasminogen
c. Inhibitor plasmin
Secara fisiologis ada keseimbangan dalam sistem hemostatis dan fibrinolisis. Proses fibrinolisis dilakukan oleh inhibitor koagulasi di dalam plasma darah. Sistem fibrinolisis bertanggungjawab dalam mencairkan kembali bekuan darah. Protein dalam plasma darah megandung euglobulin yang disebut plasminogen atau profibrinolisis. Plasminogen akan teraktivasi oleh tissue Plasminogen Activator (tPA) yang disekresi oleh jaringan yang terluka dan sel endotel pembuluh darah dan diubah menjadi plasmin atau fibrinolisin yang berperan pada proses fibrinolisis. Plasmin akan bekerja dengan melisiskan serat fibrin dan beberapa protein koagulan lainnya seperti fibrinogen, faktor V, faktor VIII, protrombin dan faktor XII (Firani, 2018).
B. ANTIFIBRINOLITIKA
Antifibrinolitik merupakan obat yang digunakan sebagai terapi yang dapat mencegah terjadinya resiko re-bleeding. Antifibrinolitik bekerja menghambat aktivasi plasminogen menjadi plasmin, mencegah break-up dari fibrin dan menjaga stabilitas menggumpal. contoh obat yang termasuk kedalam antifibrinolitika yaitu :
ASAM TRANEKSAMAT
Farmakodinamik
Farmakodinamik asam traneksamat bekerja pada proses pembekuan darah. Asam traneksamat merupakan derivat asam amino lisin yang bekerja menghambat proses fibrinolisis. Asam amino lisin yang memiliki afinitas tinggi akan menempel pada reseptor plasminogen, sehingga plasmin tidak dapat diaktifkan. Akibatnya proses degradasi fibrin dan faktor pembekuan lainnya oleh plasmin tidak terjadi.
Ketika terjadi perdarahan, faktor pembekuan akan teraktivasi, dan platelet akan berkumpul membentuk bekuan darah. Aktivasi faktor pembekuan darah dimulai dari platelet dihancurkan dan mengeluarkan trombokinase. Trombokinase akan mengaktifkan trombin dari bentuk inaktifnya protrombin. Trombin akan mengaktifkan fibrinogen menjadi fibrin. Benang-benang fibrin akan memperkuat bekuan darah. Di samping itu, pada saat proses pembekuan darah, tissue plasminogen activator (tpa) akan mengaktivasi plasminogen menjadi plasmin. Plasmin berperan dalam proses fibrinolisis, dimana plasmin akan menghancurkan fibrin dan faktor pembekuan lain. Disini asam traneksamat bekerja menghambat proses fibrinolisis.
Selain itu, asam traneksamat juga diketahui mempunyai efek antiinflamasi secara tidak langsung, yaitu dengan cara mengurangi jumlah plasmin yang beredar. Plasmin diketahui berperan dalam mengaktivasi sel inflamasi dan protein, termasuk monosit, neutrofil, platelet, komplemen, dan sitokin. Karena itu asam traneksamat dapat dipertimbangkan untuk terapi angioedema herediter, yaitu mencegah serangan angioedema jangka panjang.
Farmakokinetik
Farmakokinetik asam traneksamat adalah diabsorpsi secara cepat di plasma darah, sedangkan melalui sistem gastrointestinal hanya 50%, dan dosis puncak sekitar 1-5 jam. Asam traneksamat berikatan dengan protein dan didistribusikan melalui plasma ke jaringan. Hanya sebagian kecil obat yang dimetabolisme, dan kemudian dieliminasi melalui filtrasi di glomerulus ginjal.
a. Absorbsi
Injeksi asam traneksamat diabsorbsi secara cepat di plasma darah. Sedangkan asam traneksamat oral diabsorbsi di sistem gastrointestinal hanya sebesar 50%, dan akan masuk peredaran darah. Onset asam traneksamat untuk bekerja mencapai puncaknya adalah sekitar 1-5 jam.
b. Distribusi
Jumlah asam traneksamat yang berikatan dengan protein harus mencapai minimal 3% supaya dapat memberikan efek terapeutik, sedangkan asam traneksamat dapat berikatan penuh dengan plasminogen. Namun, asam traneksamat tidak berikatan dengan albumin. Oleh protein, asam traneksamat akan beredar di plasma dan selanjutnya dibawa ke jaringan. Asam traneksamat dapat menembus ke sawar darah plasenta. Selain itu, juga dapat berdifusi ke membran sinovial dan cairan sendi dengan konsentrasi yang sama dengan di plasma. Sebagian kecil asam traneksamat juga ditemukan di air susu ibu (ASI) dengan konsentrasi seperseratus dari total, menembus sawar darah otak dan ditemukan di cairan serebrospinal dengan konsentrasi sepersepuluh, dan aqueous humor dengan konsentrasi sepersepuluh. Asam traneksamat juga terdeteksi ditemukan di cairan semen dan menghambat fibrinolisis, namun tidak mempengaruhi migrasi semen. Konsentrasi asam traneksamat yang ditemukan di jaringan lebih rendah dibandingkan di plasma darah.
c. Metabolisme
Hanya sebagian kecil asam traneksamat yang mengalami metabolisme. Total hanya 5% sisa metabolisme yang ditemukan di urin selama 72 jam.
DAFTAR PUSTAKA


Sangat membantu sekali artikel ini dan menambah pengetahuan baru, semoga semakin berkembang ya kak
BalasHapusMakasih kak sangat membantu dan menambah wawasan
BalasHapusIni sangat membantu sekali kak, good luck kak
BalasHapusmakasihh anaa
HapusArtikelnya sangat membantu, pas banget lagi cari info ini
BalasHapusMenambah wawasan
BalasHapussemoga bermanfaat kak
HapusSangat bermanfaat, menambah wawasan
BalasHapusterima kasih
Hapusterima kasih untuk para pembaca semoga artikel ini bermanfaat untuk kita semua
BalasHapuskritik dan saran sangat diperlukan untuk perbaikan kedepannya , jika ada salah pengetikan atau kata silahkan komentar .salam hangat dari saya :)
BalasHapus