HEMATOLOGI (I)

 HEMATOLOGI I





      Hematologi merupakan salah satu studi kesehatan yang khusus mempelajari mengenai darah beserta gangguannya. Beberapa penyakit yang diatasi oleh bidang kedokteran hematologi termasuk anemia, gangguan pembekuan darah, penyakit infeksi, hemofilia, dan leukemia. Dalam dunia kesehatan, tes hematologi merupakan sebuah pemeriksaan darah lengkap yang meliputi sel darah putih, sel darah merah, dan platelet. Pemeriksaan ini biasanya termasuk dalam pemeriksaan kesehatan.

Ada banyak jenis pemeriksaan hematologi yang dapat dilakukan. Salah satunya, yaitu tes hematologi lengkap. Tujuan pemeriksaan ini adalah untuk menilai kondisi darah secara keseluruhan dan membantu diagnosis anemia, penyakit peradangan, memantau kehilangan darah, infeksi, bahkan mendeteksi kanker. Secara garis besar, pemeriksaan hematologi ini bertujuan untuk menilai kondisi kesehatan secara umum dan infeksi serta berbagai penyakit.

Tes hematologi lengkap ini meliputi:

1. Sel Darah Putih

Ada sel darah merah, ada pula sel darah putih. Sel darah putih punya peran penting dalam fungsi tubuh. Ia merupakan bagian dari sistem kekebalan tubuh yang membantu tubuh untuk melawan berbagai penyakit infeksi.

Bila sel darah putih tidak normal, ada kemungkinan tubuh mengalami gejala infeksi, gangguan sistem imun, atau bahkan kanker darah. Maka dari  itu, untuk memastikannya, dokter akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Tujuannya jelas, untuk mencari tahu jenis sel darah putih yang abnormal.

2. Sel Darah Merah

Cek hematologi lengkap pastinya juga melibatkan pemeriksaan sel darah merah. Fungsi komponen yang satu ini, yaitu membawa oksigen dan nutrisi ke seluruh tubuh. Lalu, apa jadinya bila kadar sel darah merah enggak normal, seperti terlalu sedikit atau banyak? Tentunya, hal ini menjadi pertanda dari masalah kesehatan tertentu. Contohnya, perdarahan, kekurangan cairan atau dehidrasi, anemia, hingga penyakit lainnya.

3. Gula Darah

Sesuai namanya, cek darah yang satu ini bertujuan untuk mengetahui kadar gula darah dalam darah. Gula darah ini sendiri amat berkaitan erat dengan diabetes. Sebab, kadar gula darah yang tinggi menandai kemungkinan dari penyakit tersebut. Ketika melakukan tes ini, biasanya dirimu akan diminta berpuasa selama beberapa waktu.

4. Hematokrit

Bila komponen ini terlalu tinggi dalam tubuh, bisa saja menandai kalau tubuh sedang mengalami dehidrasi. Namun, bila kadar hematokrit rendah, mungkin saja tubuh sedang mengalami kekurangan darah (anemia). Di samping itu, kadar hematokrit yang tak normal bisa saja menandakan adanya gangguan pada darah atau sumsum tulang. Nah, hematokrit ini sendiri merupakan jumlah persentase perbandingan sel darah merah terhadap volume darah.

5. Trombosit

Trombosit berperan dalam menutup atau menyembuhkan luka dan menghentikan perdarahan, dengan sifatnya yang membekukan darah. Nah, bila tingkat trombosit dalam tubuh normal, bisa saja menyebabkan gangguan pada proses pembekuan darah. Gangguannya bisa berupa dua macam. Pertama, terlalu banyak pembekuan sehingga menimbulkan gumpalan darah. Kedua, menimbulkan perdarahan karena kurangnya pembekuan.

ANTIKOAGULANSIA

Antikoagulan, dipakai untuk menghambat pembentukan bekuan darah. Antikoagulan dipakai pada klien yang memiliki gangguan pembuluh arteri dan vena yang membuat mereka birisiko tinggi untuk pembentukan bekuan darah. Obat ini bekerja dengan cara menghambat kerja protein yang terlibat dalam proses pembekuan darah.

WARFARIN



Berikut farmakodinamik, farmakokinetik, dan metabolisme dari obat warfarin :

Farmakodinamik

Efek antikoagulan dari warfarin berasal dari inhibisi interkonversi siklik vitamin K di liver. Bentuk vitamin K yang tereduksi dibutuhkan untuk karboksilasi faktor II, VII, IX, dan X sehingga faktor-faktor koagulasi ini menjadi bentuk aktif. Maka, tanpa vitamin K tereduksi, faktor-faktor di atas tidak dapat berfungsi sebagai faktor koagulan. Warfarin mengintervensi konversi vitamin K menjadi bentuk yang tereduksi, sehingga warfarin secara tidak langsung mengurangi jumlah faktor-faktor koagulasi tersebut. Dosis terapeutik warfarin mengurangi jumlah faktor koagulan bentuk aktif tergantung vitamin K yang diproduksi oleh liver mencapai hingga 30%-50%.  

Farmakokinetik

Aspek farmakokinetik warfarin terdiri dari aspek absorpsi, distribusi, metabolism, dan eliminasinya.

Metabolisme

Warfarin terdiri dari isomer S dan R yang dimetabolisme di liver oleh enzim mikrosomal hepatik (sitokrom P-450) menjadi metabolit inaktif terhidroksilasi dan metabolit tereduksi. Isomer S memiliki potensi efek yang lebih tinggi dari isomer R. Isomer S dimetabolisme oleh enzim CYP2C9 dan isomer R dimetabolisme oleh CYP1A2. Metabolit ini diekskresikan melalui urine, dan dalam jumlah sedikit diekskresikan melalui cairan empedu.

  Dr. Peter coleman, deputi direktur penelitian dari asosiasi stroke mengatakan "warafin biasanya digunakan utuk mengobati pasien dengan fibrilasi atrium untuk mengurangi risiko stoke. namun, tidak cocok untuk semua orang dan segala jenis pengobatan, karena obat ini memiliki efek samping yang srius". Namun, meskipun memiliki efek samping serius, warfarin saat ini merupakan jenis obat yang paling efektif dalam mengobati fibrilasi atrium. maka penggunaan obat ini harus melalui konsultasi intensif dengan dokter.

HEPARIN



Farmakologi

   Farmakologi heparin terdiri dari farmakodinamiknya sebagai antikoagulan yang menghambat thrombin serta faktor Xa dan IIa, farmakokinetiknya, serta resistensi terhadap heparin.

Farmakodinamik

  Sebagai antikoagulan alami yang diproduksi sel basofil dan sel mast, heparin bekerja dengan meningkatkan efek serine protease inhibitor (serpin) antitrombin (AT) yang merupakan kofaktor utama heparin dalam menginhibisi trombin dan protease koagulasi lain, terutama faktor Xa dan IIa. Heparin berikatan dengan inhibitor enzim AT melalui sekuens pentasakarida sulfat yang berafinitas tinggi dan terdapat dalam polimer heparin. Selain itu, heparin harus berikatan dengan enzim koagulasi dan antitrombin untuk menghambat trombin. Kompleks antara trombin, antitrombin, dan heparin akan menyebabkan inaktivasi enzim prokoagulan sehingga menghambat pembentukan trombin. Saat protease terinaktivasi, heparin yang berikatan dengan antitrombin akan dilepaskan sehingga dapat berikatan lagi dengan serpin bebas lainnya. Heparin tidak memiliki efek fibrinolitik sehingga tidak dapat menghancurkan klot yang sudah terbentuk.

Farmakokinetik

    Heparin dapat diberikan melalui infus intravena atau injeksi subkutan. Saat memasuki aliran darah, heparin berikatan dengan beragam protein plasma, seperti glikoprotein kaya histidin, platelet faktor 4, vitronektin, dan faktor von Willebrand. Bioavalaibilitas heparin kemudian akan turun dan menghasilkan efek antikoagulan. Ekskresi heparin dilakukan melalui dua mekanisme. Pertama, eliminasi cepat dilakukan oleh sel endotel dan makrofag melalui internalisasi yang dimediasi oleh reseptor. Mekanisme kedua bersifat lebih lambat, yakni ekskresi oleh ginjal. Oleh karena itu, efek antikoagulasi yang dihasilkan heparin tidak berhubungan linier dengan dosis pada rentang terapeutik. Waktu paruh heparin meningkat dari 30 menit pada pemberian heparin bolus intravena 25U/kg menjadi 150 menit pada pemberian dosis 400 U/kg.

DAFTAR PUSTAKA

Firani, N.K. 2018. Mengenali sel-sel Darah dan kelamin. Malang: UB Press.

Kee, J.L. dan E.R Hayes. 1996. Farmakologi : Pendekatan proses keperawatan Jakarta : EGC.

Zahro, R dan Istiroha. 2019. Asuhan Keperawatn Pada Kasus Hematologi. Surabaya : CV. Jakad Publishing Surabaya.

PERMASALAHAN

1. Apa saja hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan obat warfarin agar tidak menimbulkan efek samping serius seperti pendarahan ?

2. Jelaskan bagaimana interaksi obat dengan makanan yang dikonsumsi didalam tubuh sehingga menyebabkan beberapa obat yang dikonsumsi   tidak efektif atau efek terapinya berkurang?

3. Jelaskan bagimana antikoagulan dalam menghambat kerja protein dalam proses pembekuan darah?

Komentar

  1. Terimakasih atas pemaparan artikelnya, sangat bermanfaat

    BalasHapus
  2. Terimakasih atas pemaparan artikelnya, saya akan mencoba menjawab pertanyaan no. 1 yakni obat warfarin dapat meningkatkan terjadinya resiko pendarahan apabila obat ini di komsumsi secara bersamaan dengan obat antikoagulan, antiplatelet, fibrinolitik, OAINS, atau antidepresan golongan SSRI

    BalasHapus
  3. Artikel yang sangat bermanfaat sekali cindi clodia, baiklah disini saya akan coba menjawab pertanyaan no.3, obat antikoagulan terdapat banyak sekali jenis nya yang digunakan sesuai target terapi nya masing-masing. kita ambil contoh obat yang sering dihubungkan dengan antikoagulan yaitu Heparin. secara farmakologis, Heparin berfungsi sebagai antikoagulan yang mempunyai efek langsung sebagai antithrombin III (protein), akan tetapi dapat juga bekerja dengan melepaskan plasmimogen aktivator jaringan dan tissue pathway factor inhibitor (TPFI) yang dapat menekan/menetralisir pembentukan faktor Xa, sehingga tidak terjadi pembekuan darah.

    BalasHapus
  4. Artikel ini sangat membantu dengan penjabarannya yang mudah dimengerti

    BalasHapus
  5. Makasih kak sangat membantu dan menambah wawasan

    BalasHapus
  6. Blog nya bagus kak, sangat membantu untuk menambah refensi belajar

    BalasHapus
  7. Artikelnya bagus, informasinya jelas, Terima kasih, sangat membantu

    BalasHapus
  8. Artikel yang bermanfaat, terimakasih

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

ANTIHISTAMIN (II)

HEMATOLOGI (II)