ANTIHISTAMIN (I)

Instagram : cndclodia_ 





 Pengertian Antihistamin 
      Antihistamin (antagonis histamin adalah zat yang dapat mengurangi atau menghalangi efek histamin terhadap tubuh dengan jalan memblokir reseptor histamin. Histamin merupakan derivat amin dengan berat molekul rendah yang diproduksi dari L-histidine. Ada empat jenis reseptor histamin, namun yang dikenal secara luas hanya reseptor histamin H1 dan H2. Reseptor H1 ditemukan pada neuron, otot polos, epitel dan endotelium. Reseptor H2 ditemukan pada sel parietal mukosa lambung, otot polos, epitelium, endotelium, dan jantung. Sementara reseptor H3 dan H4 ditemukan dalam jumlah yang terbatas. Reseptor H3 terutama ditemukan pada neuron histaminergik, dan reseptor H4 ditemukan pada sum-sum tulang dan sel hematopoitik perifer Istilah antihistamin pertama kali ditujukan pada reseptor antagonis H1 yang digunakan untuk terapi penyakit inflamasi dan alergi. Antagonis reseptor H1 dapat dibagi menjadi generasi pertama dan generasi kedua (Sari dan Yenny, 2018).
     
     
Gambar 1 struktur Antihistamin

       Antihistamin generasi pertama Sejak tahun 1937-1972, ditemukan beratusratus antihistamin dan digunakan dalam terapi, namun khasiatnya tidak banyak berbeda. AH1 ini dalam dosis terapi efektif untuk menghilangkan bersin, rinore, gatal pada mata, hidung dan tenggorokan pada seasonal hay fever, tetapi tidak dapat melawan efek hipersekresi asam lambung akibat histamin. AH1 efektif untuk mengatasi urtikaria akut, sedangkan pada urtikaria kronik hasilnya kurang baik. Mekanisme kerja antihistamin dalam menghilangkan gejala-gejala alergi berlangsung melalui kompetisi dalam berikatan dengan reseptor H1 di organ sasaran. Histamin yang kadarnya tinggi akan memunculkan lebih banyak reseptor H1 . Antihistamin generasi pertama ini mudah didapat, baik sebagai obat tunggal atau dalam bentuk kombinasi dengan obat dekongestan, misalnya untuk pengobatan influensa. Kelas ini mencakup klorfeniramine, difenhidramine, prometazin, hidroksisin dan lain-lain ( Gunawijaya, 2017).
      Antihistamin generasi kedua Antihistamin generasi kedua mempunyai efektifitas antialergi seperti generasi pertama, memiliki sifat lipofilik yang lebih rendah sulit menembus sawar darah otak. Reseptor H1 sel otak tetap diisi histamin, sehingga efek samping yang ditimbulkan agak kurang tanpa efek mengantuk. Obat ini ditoleransi sangat baik, dapat diberikan dengan dosis yang tinggi untuk meringankan gejala alergi sepanjang hari, terutama untuk penderita alergi yang tergantung pada musim. Obat ini juga dapat dipakai untuk pengobatan jangka panjang pada penyakit kronis seperti urtikaria dan asma bronkial ( Gunawijaya, 2017).
    Pada beberapa tahun belakangan dikenal beberapa antihistamin H1 generasi kedua yang baru, yaitu Bilastine dan Rupatadine. Kedua antihistamin baru ini memiliki keunggulan masing-masing dibandingkan antihistamin generasi kedua sebelumnya. Bilastine merupakan antihistamin H1 paling aman terhadap kardiovaskuler, dan Rupatadine selain juga aman terhadap kardiovakuler, juga memilki efek terhadap platelet activating factor ( Sari dan Yenny, 2018).
 
Gambar 2. Struktur Bilastine

 Gambar 3. Struktur  Rupatadine

      Bilastin dan Rupatadine merupakan antihistamin terbaru yang dapat digunakan dalam penanganan urtikaria kronis. Bilastin merupakan antihistamin H1 generasi kedua terbaru yang aman dan tidak memiliki efek terhadap kardiovaskuler. Rupatadin merupakan antihistamin H1 generasi kedua terbaru selain memiliki efek terhadap histamin juga memiliki efek terhadap platelet activating factor ( Sari dan Yenny, 2018).
   Antihistamin generasi ketiga Yang termasuk antihistamin generasi ketiga yaitu feksofenadin, norastemizole dan deskarboetoksi loratadin (DCL), ketiganya adalah merupakan metabolit antihistamin generasi kedua. Tujuan mengembangkan antihistamin generasi ketiga adalah untuk menyederhanakan farmakokinetik dan metabolismenya, serta menghindari efek samping yang berkaitan dengan obat sebelumnya ( Gunawijaya, 2017).

Penggolongan Antihistamin
1. H1-blockers (antihistmin klasik) 
  • Obat generasi ke-1 : prometazin, oksomemazin, tripelennamin, feniramin, klemasin, ketotifen, dan oksatomida. obat-obat ini berkhasiat sedatif terhadap SSP dan kebanyakan memiliki efek antikolinergis.
  • Obat generasi ke-2 :astemizol, terfenadin, dan fexofenadin, akrivastin, setrizin, loratidin, levokabastin dan emedastin. Zat-zat ini bersifat khasiat antihistaminhidrofil dan sukar mencapai CCS (cairan Cerebrospinal). keuntungan lainnya adalah plasma t1/2-nya yang lebih panjang, sehingga dosisnya cukup dengan 1-2 kali sehari. efek anti-alerginya berkat dayanya menghambatsintesis mediator-radang. seperti prostaglandin, leukontrin dan kinin.
2. H2-blockers (penghambat asma)
    Obat-obat ini menghambat secara efektif sekresi asam lambung yang meningkatkan akibat histamine, dengan jalan persaingan terhadap reseptor-H2 di lambung. efeknya adalah berkurangnya hipersekresi asam klorida, juga mengurangi vasodilatasi dan tekanan darah menurun. 
  • Turunan etanolamin ( X=O) : obat golongan ini memiliki daya kerja seperti atropin dan bekerja terhadap SSP (sedatif). Antihistamin golongan ini antara lain difenhidramin, dimenhidrinat, klorfenoksamin, karbinoksamin, dan feniltoloksamin.
  • Turunan etilendiamin (X=N) : obat golongan ini umumnya memiliki daya sedativ lemah. Antihistamin golongan ini antara lain adalah antazolim, tripenelamin, klemizol, dan mepirin.
  • Turunan propilamin (X=O) : obat golongan ini memiliki daya anthistamin yang kuat. Antihistamin golongan ini antaralain feniramin, khlorpheniramin, bromphenirmin dan tripolidin.
Efek samping obat antihistamin 
       Antihistamin yang dibagi dalam antihistamin generasi pertama dan antihistamin generasi kedua, pada dasarnya mempunyai daya penyembuh yang sama terhadap gejala-gejala alergi. Yang berbeda adalah antihistamin klasik mempunyai efek samping sedatif. Efek sedatif ini diakibatkan oleh karena antihistamin klasik dapat menembus sawar darah otak (blood brain barrier) sehingga dapat menempel pada reseptor H1 di sel-sel otak. Dengan tiadanya histamin yang menempel di reseptor H1 sel otak, kewaspadaan menurun sehingga timbul rasa mengantuk. Sebaliknya, antihistamin generasi kedua sulit menembus sawar darah otak sehingga reseptor H1 sel otak tetap diisi histamin, sehingga efek sedatif tidak terjadi. Oleh karena itulah antihistamin generasi kedua disebut juga antihistamin non-sedatif ( Gunawijaya, 2017).

Berdasarkan Perbedaan Strukturnya, antihistamin dibagi lagi menjadi :

 
1. 
TURUNAN ETER AMINO ALKIL (KOLAMIN)
Contohnya : difenhidramin, klorodifenhidramin, bromodifenhidramin, medrilamin

 


 

misalnya untuk difenhidramin :
Dosis : Dewasa: 10-50 mg melalui suntikan di pembuluh darah atau otot. Dosis dapat ditambah hingga 100 mg jika diperlukan. Dosis maksimal adalah 400 mg per hari. Anak-anak: 5 mg/kgBB per hari, dibagi menjadi 4 kali pemberian melalui suntikan di pembuluh darah atau otot. 

Aspek penting dari farmakologi obat diphenhydramine adalah sebagai antagonis reseptor histamin H1 generasi pertama sehingga dapat mengurangi kadar histamin dalam tubuh, sebagai antiparkinson, antiemesis, antikolinergik dan sedasi.

Farmakodinamik

Obat diphenhydramine merupakan antihistamin dari kelas etonolamin. Diphenhydramine berperan sebagai antagonis reseptor histamin H1. Diphenhydramine bersaing dengan histamin bebas untuk menempati reseptor histamin H1 terutama di saluran pencernaan, uterus, pembuluh darah besar dan otot bronkus. Ikatan obat Diphenhydramine dengan reseptor histamin H1 mengurangi efek negatif yang diakibatkan oleh ikatan histamin bebas dengan reseptor histamin H1 seperti reaksi inflamasi, vasodilatasi, bronkokonstriksi dan edema. Ikatan obat antihistamin H1 dengan reseptor histamin dapat mengurangi faktor transkripsi respons imun NF-ĸß melalui fosfolipase C. Jalur sinyal fosfatidilinositol (PIP2) juga dapat mengurangi presentasi antigen dan mengurangi pengeluran sitokin pro inflamasi dan faktor kemotaksis. Antihistamin juga dapat menurunkan konsentrasi ion kalsium sehingga dapat menstabilkan sel mast sehingga pengeluaran histamin berkurang. Antihistamin generasi pertama seperti Diphenhydramine dapat melewati sawar otak (blood brain barrier) dan dapat berikatan dengan reseptor histamin H1 di otak sehingga dapat menyebabkan efek sedasi walaupun diberikan dalam dosis terapeutik.

Turunan etonolamin seperti diphenhydramine memiliki efek antikolinergik yang lebih besar dibandingkan dengan golongan antihsitamin lain. Efek antikolinergik ini berperan sebagai antidiskinesia untuk mengurangi gejala ekstrapiramidal akibat penggunaan obat antipsikosis dalam waktu lama. Efek antidiskinesia ini juga dapat mengurangi gejala penyakit parkinson. Obat Diphenhydramine dapat berikatan dengan reseptor asetilkolin muskarinik M2. Efek antikolinergik dari diphenhydramine diduga berasal dari efek antimuskarinik pada sistem saraf pusat sehingga juga dapat bekerja sebagai antiemesis, walaupun cara kerjanya belum diketahui secara pasti.

Farmakokinetik

Farmakokinetik diphenhydramine berupa aspek absorbsi, distribusi, metabolisme, dan ekskresinya.

TURUNAN ETILDIAMIN
 

Efektivitas tinggi, penekanan sistem saraf pusat dan iritasi lambung jg besar. Etilendiamin mempunyai efek samping penekanan CNS dan gastro intestinal. Antihistamin tipe piperazin, imidazolin dan fenotiazin mengandung bagian etilendiamin. Pada kebanyakan molekul obat adanya  nitrogen kelihatannya merupakan kondisi yang diperlukan untuk pembentukan garam yang stabil dengan asam mineral. Gugus amino alifatik dalam etilen diamin cukup basis untuk pembentukan garam, akan tetapi atom N yang diikat pada cincin aromatik sangat kurang basis. Elektron bebas pada nitrogen aril di delokalisasi oleh cincin aromatic.

Antazolin HCl
Mempunyai aktivitas antihistamin lebih rendahdibanding turunan etildiamin lain. Antazolin mempunyai efek kolinergik danlebih digunakan untuk pemakaian setempat karena mempunyai efek anestesisetempat dua kali lebih besar dibanding Prokain HCl. Dosis untuk obat mata : larutan 0.5 % 
DAFTAR PUSTAKA
Gunawijaya, F.A. 2017. Manfaat Penggunaan Antihistamin Generasi Ketiga. Jurnal Fakutas  
                    Kedokteran Universitas Trisakti. 123-129.
Sari, F dan S.W. Yenny. 2018. Antihistamin Terbaru Dibidang Dermatologi. Jurnal kesehatan Andalas.
                    7 (4) : 61-65.


PERMASALAHAN :
1. Apakah terdapat antihistamin yang aman untuk digunakan anak-anak dan dalam bentuk apa  sediaannya ?
2. Selain efeksamping yang dijelaskan pada asrtikel diatas apakah ada kemungkinan timbulnya efek samping baru terhadap pasien dengan kondisi kesehatan tertentu ?
3. Tidak semua masyarakat dapat menjangkau obat antihistamin yang diperjual belikan di apotek apakah ada alternatif lain yang dapat memberikan efek terapi yang sama seperti antihistamin yang dianjurkan ?


Komentar

  1. Baiklah perkenalkan Nama Saya SANDI dengan Nim A1C118041 dari Prodi Pendidikan Kimia Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan UNIVERSITAS JAMBI. Baiklah disink saya ingin menvoba menjawab pertanyaan dari saudari cindi nomor 1.kan dipermasalahan dikatakan Apakah terdapat antihistamin yang aman untuk digunakan anak-anak dan dalam bentuk apa sediaannya.Dari artikel serta jurnal yang saya baca, terdapat antihistamin yang aman untuk anak-anak sepertiBrompheniramine
    Merek dagang: Alco Plus, Alco Plus DMP, Ares Cold & Allergy, Ares Cold & Cough nah bentuknya ini berbentuk sirop dan takarannya serta jam konsumsinya Anak usia 13 tahun hingga dewasa: 4 mg tiap 4-6 jam.
    Anak usia 7-12 tahun: 2 mg tiap 4-6 jam.
    Anak usia 2-6 tahun: 1 mg tiap 4-6 jam.
    Kemudian ada lagi bernama Chlorpheniramine
    Merek dagang Chlorpheniramine: Alpara, Brontusin, Ceteem, Chlorphenamine Maleate, Dextral, Etaflusin, Lodecon, Omecold, Pacdin Cough, Tilomix.Bentuk obat: Tablet, sirop, suspensi Anak usia 1-2 tahun: 1 mg, dua kali sehari.
    Anak usia 2-5 tahun: 1 mg tiap 4-6 jam.
    Anak usia 6-12 tahun: 2 mg tiap 4-6 jam.
    (Dosis maksimal untuk usia 1-5 tahun adalah 6 mg per hari dan untuk usia 6-12 tahun adalah 12 mg per hari). Dan masih banyak lagi jenis antihistamin seperti Hydroxyzine,Cyproheptadine dan lain-lain yang memiliki takaran serta jam konsumsinya.
    Terimakasih semoga membantu 😊🙏

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih sodara sandi sudah menjawab salah satu permasalahan dengan lengkap sekali ,semoga jawabannya bermanfaat untuk para pembaca.

      Hapus
  2. Terimakasih kk artikel nya sangat membantu saya untuk menyelesaikan tugas kuliah

    BalasHapus
  3. Terimakasih kak artikel nya dpat membantu dan menambah pengetahuan dalam dunia kesehatan.

    Di tunggu artikel selanjutnya kak..😁🙏🏻

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih kembali, Insyaallah artikel berikutnya akan dipublish minggu depan dengan materi "Antihistamin II"

      Hapus
  4. Terimah kasih kak artikernya sangat membantu😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama. Semoga bermanfaat dikehidupan sehari-hari

      Hapus
  5. Wahh
    Sangat bermanfaat sekali👍
    Saya izin bertanya cin
    Obat antihistamin yg memiliki efek samping yg sedikit tu apa contoh nya yaa
    Soalnya kebanyakan antihistamin yg saya ketahui memiliki efek samping yg membahayakan untuk ibu hamil

    BalasHapus
    Balasan
    1. pertanyaannya bagus cin. saya coba jawab. Semua jenis antihistamin dapat mengatasi reaksi alergi dengan baik asal sesuai dengan keluhan yang Anda alami. untuk menghindari efek samping yang berbahaya bagi ibu hamil antihistamin generasi kedua lebih aman karena Antihistamin generasi kedua memiliki efek samping yang lebih sedikit ketimbang generasi pertama, studi mengatakan Antihistamin generasi kedua yang disarankan adalah loratadine dan cetirizine . perlu diketahui juga bahwa Obat antihistamin ini bisa dikonsumsi oleh kebanyakan orang, tapi ada beberapa kelompok orang yang tidak direkomendasikan mengonsumsi antihistamin. Termasuk ibu hamil dan menyusui, menderita epilepsi, gangguan ginjal, penyakit jantung, dan penyakit hati. Oleh karena itu, maka dari itu sebaiknya antihistamin dikonsumsi secara hati-hati dan sesuai petunjuk dokter dan dengan dosis yang tepat.

      Hapus
  6. Selamat malam, saya Winda Saraswati
    Sebelumnya terima kasih atas artikel ny,saya akan mencoba menjawab tentang efek samping antihistamin, pada artikel yang saudari cindi tuliskan ES antihistamin berupa sedasi, untuk ES lainnya yang dapat ditimbulkan tergantung dari obat yang digunakan karena meskipun dalam satu golongan dan memiliki mekanisme kerja secara keseluruhan yang sama setiap obat memiliki mekanisme kerja dan berikatan dengan reseptor berbeda
    Tapi untuk ES lainnya yang dapat di timbulkan antihistamin secara umun adalah nyeri kepala, retensi urin, mulut kering, pandangan kabur, gangguan saluran cerna, hipotensi dst. Yang perlu diketahui adalah tidak smua individu akan mendapatkan ES, karena efektifitas obat tergantung kepada respon dari individu tersebut. Selain itu untuk mengetahui ES terbaru dari antihistamin tersebut perlu dilakukan penggumpulan & analisis data ilmiah berupa hasil penelitian/jurnal pendukung lainnya untuk masing masing obatnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. wahh terima kasih banyak kak sudah menjawab salah satu permasalahan yang ada. semoga jawaban ini bermanfaat untuk kita dan pembaca

      Hapus
  7. sangat bermanfaat sekali
    Terimakasih cin 👍

    BalasHapus
  8. Terima kasih atas artikelnya sangat bermanfaat dan menambah wawasan.

    BalasHapus
  9. Izin bertanya saudari cindi,bagaimana efek penggunaan antihistamin dlm jangka panjang,terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih pertanyaan yang bagus. Penggunan obat dalam jangka panjang tentu bisa menimbulkan efek samping. Efek samping akan timbul tergantung dari jenis obat yang Anda gunakan untuk mengatasi alergi Anda. Pada dasarnya obat alergi bisa dikonsumsi untuk jangka panjang ( 3-6 bulan ) selama dalam pengawasan dan diminum sesuai dengan dosis anjuran yang disarankan dokter. Beberapa efek samping dari penggunaan obat alergi jangka panjang bisa menimbulkan Mulut terasa kering, Susah pipis
      Pusing, Mengantuk, Gangguan penglihatan=katarak dll. ,Timbulnya mimpi buruk., Sakit perut, gelisah. dan terjadi peningkatan ambang toleransi hingga dibutuhkan dosis yang lebih tinggi.

      Hapus
  10. Terimakasih cindi, artikelnya sangat bermanfaat

    BalasHapus
  11. Assalamualaikum wr.wb,baiklah saudari cindi,perkenalkan saya fiya dinda syafitri izin menjawab pertanyaan no 1,menurut fimela (2014),Benadryl (Diphenhydramine Hydrochloride) tersedia dalam bentuk cair (sirup) dan tablet kunyah, agar anak-anak yang belum dapat menelan pil dapat mengonsumsinya dengan mudah. Salah satu efek samping obat ini adalah membuat anak mengantuk. Selain itu, Benadryl hanya bekerja selama 4 hingga 6 jam.
    Resep dengan antihistamin seperti Atarax atau Vistaril (hydroxyzine) kadang dapat digunakan untuk mengobati anak yang gatalnya tak kunjung reda. Atarax atau Vistaril (hydroxyzine) dapat bekerja lebih lama, 6 hingga 8 jam. Antihistamin tersebut bekerja dengan baik untuk gatal yang disebabkan iritasi ringan.
    Terima kasih,semoga membantu ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. waalaikumslaam wr. wb terimakasih sodari fiya atas penjelasannya mengenai permasalahan no 1. semoga dapat dipahami dan menambah wawasan kita bersama

      Hapus
  12. Terimakasih cindi, artikelnya bermanfaat dan menambah wawasan sekali.

    BalasHapus
  13. Terimakasih banyak atas artikelnya cindi,
    Disini mauli izin bertanya cin, apakah golongan obat antihistamin ini dijual secara bebas? Ataukah harus menggunakan resep dokter?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tidak sembarang obat dijual di pasaran secara bebas, berbeda dengan obat antialergi atau antihistamin yang boleh langsung dibeli di apotek tanpa resep dokter. karena obat ini sudah terdaftar sebagai obat wajib apoteker. Namun pemakainnya harus tetap sesuai dengan Dosis antihistamin yang bedasarkan dengan kondisi umur, kondisi medis, dan respons terhadap perawatan. contoh salah satu dosis obat antihistamin yang tepat yaitu cetirizine (Dewasa: 5 sampai 10 miligram sekali sehari. Anak-anak berusia 6 tahun ke atas: 5 sampai 10 mg sekali sehari. Anak-anak usia 4 sampai 6 tahun: 2,5 mg sekali sehari) Penggunaan obat cetirizine untuk bayi dan anak-anak hingga usia 4 tahun tidak disarankan.

      Hapus
  14. terimakasih info dari artikelnya sangat menerik , saya akan menjawab pertanyaan no 3 yaitu Bilastin dan Rupatadine merupakan antihistamin terbaru yang dapat digunakan dalam penanganan urtikaria kronis. Bilastin merupakan antihistamin H1 generasi kedua terbaru yang aman dan tidak memiliki efek terhadap kardiovaskuler. Rupatadin merupakan antihistamin H1 generasi kedua terbaru selain memiliki efek terhadap histamin juga memiliki efek terhadap platelet activating factor.

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih kembali naya sudah menjawab permasalahan nomor 3 semoga membantu pembaca dalam memahaminya

      Hapus
  15. Terimakasih, sdmoga ilmunya bermanfaat

    BalasHapus
  16. Terimakasih blok nya sangat membawa wawasan

    BalasHapus
  17. Terima kasih, sangat membantu sekali

    BalasHapus
  18. Terimakasih kak, artikelnya sangat bagus dan menaril

    BalasHapus
  19. Artikel mudah dipahami jadi gak bosen pas baca, mantap
    Good luck cinn

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih sudah berkunjung dan membaca semoga bermanfaat

      Hapus
  20. Artikel nya menambah wawasan bagi pembaca

    BalasHapus
  21. terima kasih untuk teman-teman semua semoga bermanfaat dan menambah wawasan kita semua . salam hangat dari saya

    BalasHapus
  22. kritik dan saran sangat diperlukan untuk perbaikan artikel saya kedepannya. jika ada salah pengetikan mohon maaf

    BalasHapus
  23. Artikelnya sangat bermanfaat dan menambah wawasan, terimakasih

    BalasHapus

Posting Komentar